KURSUS MERANGKAI BUNGA ALTAR

Hari Rabu, 17 November  2010 pukul 09.00 WIB

Sie Liturgi Paroki Hati Kudus Yesus Tasikmalaya, mengadakan acara kursus sehari “Bagaimana Cara Merangkai Bunga Altar”.

Dengan instruktur oleh Pastor Yohanes Handy Sadeli, Pr yang sehari – harinya berkarya di Paroki Subang, Jawa Barat. Tujuan dari acara ini, untuk saling berbagi pengalaman, memperkaya dan menantang untuk lebih berkreativitas khususnya mengenai rangkaian bunga Gereja dalam liturgi.

Gereja kita memiliki banyak kekayaan simbol dan lambang dalam usaha kita mendekatkan diri dan beribadat kepada Tuhan Allah.

Agar perayaan Ekaristi dapat diikuti oleh umat dengan khusuk, maka perlu ditunjang dengan sarana dan simbol yang menarik, baik, dan benar.

Menarik, agar umat tidak mengeluh karena terasa monoton dan membosankan.

Baik, agar perayaan Ekaristi disiapkan dengan baik.

Benar, sesuai dengan tata liturgi yang berlaku sesuai dengan masa – masa dari kalender liturgi.

(Kutipan dari buku beberapa catatan tentang rangkaian bunga Gereja yang disampaikan pada pelatihan merangkai bunga Gereja).

“seperti orang yang bersolek untuk pergi ke pesta maka kita tidak ingin tampil biasa, sebab Ekaristi juga pesta menyambut kedatangan Tuhan, perayaan Ekaristi menjadi puncak kehidupan umat beriman. Hendaknya dengan sungguh – sungguh sebagai ungkapan iman mempersiapkan perayaan Ekaristi dengan salah satu caranya menghias altar Tuhan bukan sekedar sebagai karya biasa tetapi tanda cinta hati kepada Tuhan”, ujar Pastor Chris selaku Pastor Paroki dalam sambutannya.

Dengan antusias dari awal sampai akhir para ibu – ibu yang mendominasi, memadati aula dan menyimak dengan sungguh – sungguh setiap materi yang disampaikan disertai demo memeragakan menghias bunga semisal untuk perayaan Natal dan Paskah oleh Pastor Handy.

Umat yang datang dari masing – masing perwakilan Stasi Ciawi, Banjar, Ciamis, dan masing – masing lingkungan yang ada di Paroki Tasikmalaya sendiri.

Setelah diberikan beberapa lama pengarahan, lalu ibu – ibu memeragakan merangkai bunga dengan daya kreativitasnya sendiri.

Setelah selesai, masing – masing hasil karya yang sudah tercipta dengan sabar satu persatu oleh Pastor Handy diberikan beberapa catatan dan masukkan agar nantinya dapat dengan baik dan benar sesuai dengan tata cara liturgi Gereja Katolik bisa disempurnakan lagi bila bertugas merangkai bunga altar.

Dan acara usai ketika waktu menunjukkan lewat pukul 13.00 WIB.

“Syarat yang pasti bagi ibu – ibu bila ingin bisa dan semakin baik merangkai bunga, ya harus datang ke Gereja minimal seminggu sekali”, pungkas Pastor Handy yang kerap dengan nada mengundang senyum tawa membuat suasana terasa begitu cepat berlalu.

Beberapa dasar yang baik diperhatikan untuk membuat dan merangkai bunga Gereja yang dikutip dari buku beberapa catatan tentang rangkaian bunga Gereja yang disampaikan pada pelatihan merangkai bunga Gereja  :

-          Pada dasarnya rangkaian bunga Gereja tidak berbeda jauh dari rangkaian bunga untuk dirumah atau di gedung     pesta. Untuk dirumah biasanya sederhana namun cerah, dan ceria. Digedung pesta biasanya meriah dan megah, sedangkan di Gereja biasanya anggun dan sederhana walau cerah.

-          Untuk di Gereja penggunaan bunga sebaiknya tidak lebih dari 4 macam jenis bunga, warna bunga sebaiknya tidak lebih dari 3 warna, bentuk rangkaian tidak terlalu besar.

-          Yang paling penting adalah pilihan warna bunga.

-          Untuk masa Prapaska di Gereja tidak mempergunakan bunga, sebab suasana penantian kebangkitanNya dalam suasana tobat dan sesal.

-          Pada masa paska, dan pada saat minggu Palma sebaiknya tidak pakai bunga, cukup dengan pohon – pohon Palma.

-          Kamis Putih dan malam Paska hanya mempergunakan warna putih, karena warna liturginya putih.

-          Perayaan Jumat Agung tidak mempergunakan rangkaian bunga, kecuali untuk bunga tabur untuk upacara penghormatan Salib maka warna bunga taburnya bebas, misal campuran warna merah, ungu, kuning, putih.

-          Untuk masa Adven boleh mempergunakan rangkaian bunga asalkan sederhana dan warna dominannya ungu, karena warna liturginya ungu, dan dapat diberi sedikit warna bunga putih untuk aksen atau variasinya.

-          Pada masa Natal dominan warna bunganya putih, karena warna liturginya putih. Dapat diberi warna lain untuk aksen atau variasinya, yang penting warnanya soft, warna pastel, misal pink, salem, oranye muda.

-          Warna meraha dalah warna liturgi yang melambangkan darah, masih memungkinkan dipergunakan karena bagi kita merah juga merupakan lambang kegembiraan asal tidak menjadi warna yang dominan dalam rangkaian tersebut.

-          Pada masa biasa, menjadi netral hanya saja tetap diperhatikan warnanya tetap soft.

-          Untuk rangkaian bunga pengantin, jika tidak ada pesanan warna khusus dari pengantin, maka warna yang dipergunakan putih, dengan akses atau variasi warna soft entah kuning atau pink. Kecuali jika pengantin meminta warna khusus, maka sedapat mungkin disesuaikan.

-          Yang termasuk warna putih adalah putih, krem atau off white, broken white, kuning.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s