SEMINAR TRADISI ADAT ISTIADAT TIONGHOA

Apakah masih boleh dilakukan oleh Umat Katolik tentang tradisi Imlek, Cap Go Meh, Peh Cun, Tiong Ciu, Makan Onde (Tang Yuan), Hio, Hu, Kwee Pang, Ceng Beng, Kaca Patkwa, Hong Sui, Memelihara Abu Leluhur (Hio Louw), Ciak Cay, Makanan Bekas Sajian, dan lain – lain?

Demikian seringnya pertanyaan yang kerap dilontarkan oleh banyak orang yang menjadi ganjalan dan ketidak tahuan didalam hidup menggereja.

Maka Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Tasikmalaya dengan masih dalam suasana momen hari raya Imlek 2562, menyelenggarakan seminar yang bertemakan “Pandangan Gereja Katolik Terhadap Tradisi dan Adat Istiadat Tionghoa” bersama Romo Joanes Yandhie Buntoro, CDD dan Bapak Edwardus Christovani dari Paroki Tomang, Gereja Katolik Maria Bunda Karmel, Jakarta Barat, pada hari Minggu, 30 Januari 2011 Pukul 16.00 WIB sampai dengan selesai diRestaurant Asia Internasional, lantai II Asia Plaza Kota Tasikmalaya.

Tujuan dari seminar yang membahas Tradisi dan Adat Istiadat Tionghoa ini seperti yang tertera didalam lembaran buku makalah seminar, adalah :

-          Membantu kita semakin memahami, menghargai dan memaknai atas sikap dan tindakan dalam melakukan dan melestarikan budaya dan tradisi Tionghoa, baik dalam kehidupan beriman Katolik maupun dalam kehidupan sehari – hari.

-          Semakin tahu bagaimana kita memberikan terang Injil terhadap tradisi dan adat istiadat Tionghoa yang tidak bertentangan dengan Iman Katolik sehingga akan terjadi inkulturasi yang sehat.

Diawal acara, seperti dikatakan oleh Pastor Chris, Pr dalam kata pengantar sambutan bahwa mungkin saja jika mendengar kata Tasikmalaya sudah banyak mendengar berbagai macam cerita yang berkembang. Seperti memang dulu Gereja kami pernah dibakar dan ditahun 2009 Tasikmalaya juga pernah mengalami gempa bumi yang hebat.

Dan inilah wajah – wajah sebagian dari umat Katolik Paroki Hati Kudus Yesus Tasikmalaya, dimana kita mempunyai beberapa adat istiadat yang mewarnai keberadaan kami di Tasikmalaya.

Termasuk diantaranya adat istiadat dan budaya Tionghoa, maka dengan seminar ini diharapakan ada pengajaran yang bisa menjadi pencerahan kita semua untuk memahami dan bisa sungguh – sungguh selaras dengan Iman sebagai murid – murid Kristus dengan adat istiadat yang ada tanpa menyimpang dari ajaran Kristus sendiri.

Tak kurang sudah terjual sebanyak 250 tiket yang menjadi peserta dalam seminar ini. Dan jika ditanya Pastor pembicaranya dari ordo mana? Dari Keuskupan mana dan apa singkatan dari CDD? Maka itulah yang sepintas banyak ditanyakan dari umat Katolik sendiri ketika mengetahui ada seminar Tradisi dan Adat Istiadat Tionghoa ini, kata Ibu Dokter Patricia yang bertugas selaku ketua panitia pelaksana dari rangkaian acara Imlek 2562, termasuk seminar ini.

Dan Romo Joanes Yandhie Buntoro Gunawan, CDD memaparkan tentang Kongregasi murid – murid Tuhan (CDD) Indonesia, sehingga hadirin yang sudah hadir diharapkan memperoleh gambaran yang baik dari penjelasan yang disampaikan walaupun hanya sekilas singkat saja.

Dari susunan acara seminar yang sudah ditentukan, lalu pemaparan dan penjelasan disampaikan oleh Bapak Edwardus Christovani yang banyak berbicara membahas seperti kronologi singkat sejarah China, festival Tionghoa di negeri Tiongkok (berdasarkan Tahun Imlek), Chinese festival (tahun baru Imlek), cara perhitungan hari tahun baru Imlek, festival Cap Go Meh pesta lampion, Qing Ming festival (Cheng Beng), festival Peh Cun, festival Tiong Ciu, adat istiadat kelahiran, diagram Yin Yang yang terkenal, diagram lima unsur, sejarah kue beruntungan, adat istiadat pernikahan, adat istiadat kematian, kremasi, sejarah kremasi.

Banyak penjelasan hal baru yang didapatkan oleh para peserta yang hadir, dengan mulai seiringnya memudarnya tradisi yang mulai luntur dilakukan oleh kaum muda Tionghoa. Pemahaman yang benar, untuk tidak bertentangan dengan ajaran Iman Katolik memang sangat penting untuk disimak dari awal sampai akhir seminar ini.

Sebab mungkin saja selama ini sudah tertanam pemahaman tradisi, mitos – mitos dan dongeng cerita yang secara turun menurun keliru dan perlu diluruskan kembali, selama itu seusai ajaran Iman Katolik.

Disela – sela seminar Romo Joanes Yandhie Buntoro Gunawan, CDD memainkan alat musik gesek khas Tionghoa yang terbuat dari bahan kayu dan resonatornya ditutup dengan kulit tipis, mempunyai dua buah senar/dawai dan mempunyai tangga nada pentatonik, nada – nadanya juga sangat khas saat didengarkan.

Usai mendengarkan alunan musik ini, Animo umat terpancar ketika banyak yang memborong CD musik produksi Romo Joanes Yandhie Buntoro Gunawan, CDD sebagai tanda mata dan kenang – kenangan atas momen yang memang untuk pertama kalinya diadakan di lingkup Gereja Katolik Paroki Hati Kudus Yesus Tasikmalaya, hadir juga dari beberapa warga Tionghoa non Katolik dari persatuan Tionghoa Tasikmalaya, dan penganut agama Buddha, Konghucu.

Kita tidak mempermasalahkan keberbedaan dari agama – agama yang lain, mari kita bersama – sama untuk bekerjasama bagaimana membantu sesama orang – orang yang masih dalam kesusahan hidup, kata Romo Yandhie CDD mengajak untuk lebih berbuat dalam kebaikkan.

Seperti yang dikatakan, oleh Bapak Chandra selaku ketua pelakasana DPP Paroki Tasikmalaya bahwa memang sebagian besar umat Katolik Paroki Tasikmalaya berasal dari etnis Tionghoa dan semakin menambah wawasan dengan adanya seminar ini, pencerahan antara Iman Katolik dan budaya Tionghoa yang merupakan bagian dari anggota masyarakat Tasikmalaya dan rakyat Bangsa Indonesia. Saya yakin bahwa anda adalah orang – orang yang setia dengan memegang tradisi, juga tetap menjadi orang Katolik yang teguh.

Maka secara umum dapat disimpulan dari acara seminar “Pandangan Gereja Katolik Terhadap Tradisi dan Adat Istiadat Tionghoa” ini beberapa hal :

-          Tradisi Tionghoa yang diturunkan sejak dari nenek moyang yang dipercaya berasal dari Tuhan yang berada di atas langit sana, dengan waktu itu belum mengenal Kristus adalah pada dasarnya bertujuan baik sebagai ungkapan diri berbakti kepada Tuhan.

-          Untuk semakin cerdas, dan memahami ajaran Gereja Katolik agar memilah – milah mana yang cocok mempraktekkan tradisi nenek moyang yang bila tidak gunakan dengan baik akan terjadi penyimpangan dan hanya menimbulkan rasa was – was, ketakutan, kekhawatiran yang tidak masuk akal terhadap mitos – mitos yang menyesatkan.

-          Memegang dan melestarikan tradisi yang menjadi bagian dari Budaya Tionghoa diartikan sebagai pelestarian budaya yang sarat dengan simbol – simbol dan nilai – nilai pemaknaan yang bertujuan membawa pada kebaikkan bagi lingkungan, hubungan antar manusia dan hubungan manusia dengan Tuhan tanpa menanggalkan identitasnya sebagai orang Katolik.

About these ads

2 responses to “SEMINAR TRADISI ADAT ISTIADAT TIONGHOA

  1. Saya mau bertanya tentang seminar Cengbeng , sedangkan yang tertera di situs internet masuk dalam seminar bagaimana dgn saya yang berdomisili di sumatra yg tidak dapat ikut seminar itu berarti kami tidak dapat pengetahuan cengbeng sebagai perbandingan dengan iman katolik saya mohon penjelasan, saya harus mendapatkan informasinya dimana

  2. saya mau tanya pandangan gereja katolik (agama katolik) tentang kremasi jenasah (katolik).sebab saya menginginkan kelak kalau Bapa panggil saya untuk kembali kerumah Bapa , saya inginkan agar saya dikremasi, agar kelak tidak merepotkan, keamanan , bagi anak cucu saya. bagaimana dengan kebangkitan kelak ?? apakah orang yang dikremasi juga akan dibangkitkan??? mohon bantuan agar tidak goyah iman saya. GBU

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s