KURSUS EVANGELISASI PRIBADI “SAKRAMEN DALAM IMAN GEREJA KATOLIK”

Dalam pertemuan Kursus Evangelisasi Pribadi, hari Sabtu sore 13 Agustus 2011 usai Perayaan Ekaristi, dengan pembicara Pastor Yohanes A Cruce Christiono Hartanto, Pr selaku Pastor Kepala Paroki Hati Kudus Yesus Tasikmalaya membawakan bahan – bahan materi Kursus Evangelisasi Pribadi mengenai “SAKRAMEN  DALAM  IMAN GEREJA KATOLIK”. Sakramen-sakramen Perjanjian Baru, yang diadakan oleh Kristus Tuhan dan dipercayakan kepada Gereja, sebagai tindakan-tindakan Kristus dan Gereja, merupakan tanda dan sarana yang mengungkapkan dan menguatkan iman, mempersembahkan penghormatan kepada Allah serta menghasilkan pengudusan manusia. Dan karena itu, sangat membantu untuk menciptakan memperkokoh dan menampakkan persekutuan gerejawi. Oleh karena itu, baik para pelayan suci maupun umat beriman kristiani lain haruslah merayakannya dengan sangat khidmat dan cermat sebagaimana mestinya.  (KHK 840)

Ada tujuh Sakramen:

Pembaptisan,

Penguatan,

Ekaristi,

Pengakuan,

Urapan Orang Sakit.

Tahbisan, dan

Perkawinan.

Ketujuh Sakramen ini mencakup semua tahap dan saat-saat penting kehidupan: memberikan kelahiran dan pertumbuhan, penyembuhan dan perutusan iman kristiani. Jadi ada semacam keserupaan antara tahap kehidupan kodrati dan tahap rohani.

Inisiasi kristen terlaksana dalam tiga Sakramen :

1. Pembaptisan (awal kehidupan baru),

2. Penguatan (yang menguatkan kehidupan),

3. Ekaristi (yang mengenyangkan umat beriman dengan Tubuh dan Darah Kristus, untuk mengubahnya ke dalam Kristus).

Pengakuan dan Pengurapan sebagai Sakramen Penyembuhan; Perkawinan dan Imamat sebagai Sakramen Persekutuan dan Perutusan.

1.Sakramen Baptis, menjadi pintu gerbang sakramen-sakramen, yang perlu untuk keselamatan, entah diterima secara nyata atau setidak-tidaknya dalam kerinduan, dengan mana manusia dibebaskan dari dosa, dilahirkan kembali sebagai anak-anak Allah serta digabungkan dengan Gereja, setelah dijadikan serupa dengan Kristus oleh meterai yang tak terhapuskan, hanya dapat diterimakan secara sah dengan pembasuhan air bersama rumus kata-kata yang diwajibkan. (KHK 849)

Perayaan Baptis haruslah disiapkan dengan semestinya, karena itu: 1)orang dewasa yang bermaksud menerima baptis hendaknya diterima dalam katekumenat dan sejauh mungkin, dibimbing ke inisiasi sakramental lewat berbagai tahap. 2) orang tua dari kanak-kanak yang harus dibaptis, demikian pula mereka yang akan menerima tugas sebagai Wali Baptis, hendaknya diberitahu dengan baik tentang makna sakramen ini dan tentang kewajiban-kewajiban yang melekat padanya. Hendaknya orang tua, Wali Baptis dan Pastor Paroki, menjaga agar jangan memberikan nama baptis yang asing dari citarasa kristiani. Agar seorang dewasa dapat dibaptis, ia harus telah menyatakan kehendaknya untuk menerima baptis, mendapat pengajaran yang cukup mengenai kebenaran-kebenaran iman dan kewajiban-kewajiban kristiani, dan telah teruji dalam hidup kristiani melalui katekumenat, hendaknya diperingatkan juga untuk menyesali dosa-dosanya.

Orang dewasa yang berada dalam bahaya maut dapat dibaptis jika memiliki sekadar pengetahuan mengenai kebenaran-kebenaran iman yang pokok, dengan salah satu cara pernah menyatakan maksudnya untuk menerima baptis dan berjanji bahwa akan mematuhi perintah-perintah agama kristiani.

Para orang tua wajib mengusahakan agar bayi-bayi dibaptis dalam minggu-minggu pertama; segera sesudah kelahiran anaknya. Agar bayi dapat secara sah dibaptis, haruslah: 1)orang tuanya, sekurang-kurangnya satu dari mereka atau yang menggantikan secara sah, menyetujuinya. 2) ada harapan cukup beralasan bahwa anak itu akan dididik dalam agama Katolik; bila harapan itu tidak ada, baptis hendaknya ditunda, dengan memperingatkan orang tuanya mengenai alasan itu.

Calon baptis sedapat mungkin diberi Wali Baptis, yang berkewajiban mendampingi calon baptis dewasa dalam inisiasi kristiani, dan bersama orang tua mengajukan calon baptis bayi untuk dibaptis, dan juga wajib berusaha agar yang dibaptis menghayati hidup kristiani yang sesuai dengan baptisnya dan memenuhi dengan setia kewajiban-kewajiban yang melekat pada baptis itu.

2.Sakramen Penguatan, yang memberikan meterai dan dengan orang-orang yang telah dibaptis, melanjutkan perjalanan inisiasi kristiani dan diperkaya dengan anugerah Roh Kudus serta dipersatukan secara lebih sempurna dengan Gereja, menguatkan dan semakin mewajibkan mereka untuk dengan perkataan dan perbuatan menjadi saksi-saksi Kristus, menyebarkan dan membela iman. (KHK 879).

Sakramen Penguatan diberikan dengan pengurapan krisma pada dahi, yang hendaknya dilakukan dengan penumpangan tangan serta dengan kata-kata yang diperintahkan dalam buku-buku liturgi yang telah disetujui. Krisma yang digunakan, haruslah dikonsekrasi oleh Uskup, meskipun sakramen diberikan oleh seorang imam.

Seperti pembaptisan, Penguatan juga mengukir satu tanda rohani, satu meterai yang tidak terhapus di dalam jiwa orang Kristen; karena itu orang hanya menerima Sakramen ini satu kali saja.

Seorang penerima Penguatan yang telah mencapai usia yang dapat berpikir rasional, harus mengakui iman, berada dalam suasana rahmat, mempunyai maksud menerima Penguatan, dan harus siap menanggung tugasnya sebagai murid dan saksi Kristus dalam persekutuan Gereja dan dalam dunia.

3). Sakramen yang terluhur ialah Ekaristi mahakudus, di dalamnya Kristus Tuhan sendiri dihadirkan, dikurbankan dan disantap, dan melaluinya Gereja selalu hidup dan berkembang. Kurban Ekaristi, kenangan wafat dan kebangkitan Tuhan, dimana Kurban Salib diabadikan sepanjang masa, adalah puncak seluruh ibadat dan kehidupan kristiani dan sumber yang menandakan serta menghasilkan kesatuan umat  Allah dan menyempurnakan pembangunan Tubuh Kristus. Sedangkan sakramen-sakramen  lain dan semua karya kerasulan gerejawi melekat erat dengan Ekaristi mahakudus dan diarahkan kepadanya. (KHK 897)

Umat beriman kristiani hendaknya menaruh hormat yang sebesar-besarnya terhadap Ekaristi Mahakudus, dengan mengambil bagian aktif dalam perayaan Kurban mahaluhur itu, menerima sakramen itu dengan penuh bakti dan kerap kali, serta menyembah-sujud setinggi-tingginya; para gembala jiwa-jiwa hendaknya tekun mengajarkan kewajiban itu kepada umat beriman.

Perayaan Ekaristi adalah tindakan Kristus sendiri dan Gereja; di dalamnya Kristus Tuhan melalui pelayanan imam, mempersembahkan diriNya kepada Allah Bapa dengan kehadiranNya secara substansial dalam rupa roti dan anggur, serta memberikan diriNya sebagai santapan rohani kepada umat beriman yang menggabungkan diri dalam persembahanNya.

Pelayan, yang selaku pribadi Kristus (in persona Christi) dapat melaksanakan Sakramen Ekaristi, hanyalah imam yang ditahbiskan secara sah. Kecuali dalam kasus dimana menurut ketentuan hukum diperbolehkan merayakan Ekaristi atau berkonselebrasi lebih dari satu kali pada hari yang sama, imam tidak boleh merayakan lebih dari satu kali sehari. Jika ada kekurangan imam, Ordinaris Wilayah dapat mengijinkan para imam, atas alasan yang wajar, merayakan dua kali sehari, bahkan jika kebutuhan pastoral menuntutya, juga tiga kali pada hari-hari minggu dan para hari-hari raya wajib.

Agar Ekaristi mahakudus dapat diterimakan kepada anak-anak, dituntut bahwa mereka memiliki pemahaman cukup dan telah dipersiapkan dengan seksama, sehingga dapat memahami misteri Kristus sesuai dengan daya tangkap mereka dan mampu menyambut Tubuh Tuhan dengan iman dan khidmat.

Yang sadar berdosa berat, tanpa terlebih dahulu menerima Sakramen Pengakuan (Tobat), jangan merayakan Misa atau menerima Tubuh Tuhan, kecuali ada alasan berat serta tiada kesempatan mengaku; dalam hal demikian hendaknya ia ingat bahwa ia wajib membuat tobat sempurna, yang mengandung niat untuk mengaku sesegara mungkin.

Umat beriman kristiani yang berada dalam bahaya maut yang timbul dari sebab apapun, hendaknya diperkuat dengan komuni suci sebagai Viatikum.

Perayaan Ekaristi hendaknya dilakukan di tempat suci, kecuali dalam kasus khusus kebutuhan menuntut lain; dalam hal demikian, perayaan haruslah di tempat yang pantas.

Kecuali dihalangi alasan berat, gereja dimana disimpan Ekaristi mahakudus, hendaknya terbuka bagi umat beriman sekurang-kurangnya selama beberapa jam setiap hari, agar mereka dapat meluangkan waktu untuk berdoa di hadapan Sakramen mahakudus.

Di hadapan tabernakel tempat Ekaristi mahakudus disimpan, hendaknya ada lampu khusus yang tetap menyala untuk menandakan dan menghormati kehadiran Kristus.

4. Dalam Sakramen Tobat, umat beriman mengakukan dosa-dosanya kepada pelayan yang legitim, menyesalinya serta berniat untuk memperbaiki diri, lewat absolusi yang diberikan oleh pelayan itu, memperoleh ampun dari Allah atas dosa-dosa yang telah dilakukannya sesudah baptis, dan sekaligus diperdamaikan kembali dengan Gereja yang mereka lukai dengan berdosa. (KHK 959)

Agar seorang beriman kristiani dapat dengan sah menikmati absolusi sakramental yang diberikan secara bersama, dituntut bukan hanya bahwa ia berdisposisi baik, melainkan juga bahwa ia berniat untuk mengakukan dosa-dosa berat satu per satu pada saatnya yang tepat, yang sekarang ini tidak dapat dilakukannya.

Untuk sahnya absolusi dosa dituntut bahwa pelayan memiliki, disamping kuasa tahbisan, juga kewenangan melaksanakan kuasa itu terhadap umat beriman yang diberi absolusi.

Rahasia sakramental tidak dapat diganggu gugat; karena itu sama sekali tidak dibenarkan bapa pengakuan dengan kata-kata atau dengan suatu cara lain serta atas dasar apapun mengkhianati peniten sekecil apapun.

Orang beriman kristiani, agar dapat menikmati bantuan yang membawa keselamatan dari Sakramen Tobat, haruslah bersikap sedemikian sehingga dengan menyesali dosa yang telah ia lakukan dan berniat untuk memperbaiki diri, bertobat kembali kepada Allah.

Orang beriman kristiani wajib mengakukan semua dosa berat menurut jenis dan jumlahnya, yang dilakukan sesudah baptis dan belum secara langsung diampuni melalui kuasa kunci Gereja, serta belum dilakukan dalam pengakuan pribadi, dan yang disadarinya setelah meneliti diri secara seksama.

Dianjurkan kepada umat beriman kristiani agar juga mengakukan dosa-dosa ringan.

Setiap orang beriman, sesudah sampai pada usia dapat membuat diskresi, wajib dengan setia mengakukan dosa-dosa beratnya, sekurang-kurangnya sekali setahun.

5. Sakramen Pengurapan orang sakit, dengan Gereja menyerahkan kepada Tuhan yang menderita dan dimuliakan umat beriman yang sakit berbahaya, agar Ia meringankan dan menyelamatkan mereka, diberikan dengan mengurapkan minyak kepada mereka serta mengucapkan kata-kata yang ditetapkan dalam buku-buku liturgi. (KHK 998)

Para gembala jiwa-jiwa dan orang-orang yang dekat dengan yang sakit, hendaknya mengusahakan agar mereka yang sakit pada waktu yang tepat diringankan dengan sakramen ini.

Pengurapan orang sakit dapat diberikan kepada orang beriman yang telah dapat menggunakan akal budi, yang mulai berada dalam bahaya karena sakit atau usia lanjut.

Sakramen itu dapat diulangi, jika si sakit, setelah sembuh, jatuh sakit berat lagi, atau jika masih dalam keadaan sakit yang sama, bahayanya menjadi semakin gawat.

Pengurapan orang sakit hendaknya jangan diberikan kepada mereka, yang membandel dalam dosa berat yang nyata.

6. Dengan Sakramen Tahbisan menurut ketetapan ilahi sejumlah orang dari kaum beriman kristiani diangkat menjadi pelayan-pelayan suci, dengan ditandai oleh meterai yang tak terhapuskan, yakni dikuduskan dan ditugaskan untuk menggembalakan umat Allah, dengan melaksanakan dalam pribadi Kristus Kepala, masing-masing menurut tingkatannya, tugas-tugas mengajar, menguduskan , dan memimpin. (KHK 1008)

Tahbisan-tahbisan itu adalah episkopat, presbiterat, dan diakonat; yang diberikan dengan penumpangan tangan dan doa tahbisan, yang ditetapkan dalam buku-buku liturgi untuk masing-masing tingkat.

Untuk tahbisan-tahbisan itu hendaknya hanya diajukan calon-calon yang menurut penilaian arif Uskupnya sendiri atau Pemimpin tinggi yang berwenang, setelah mempertimbangkan segala sesuatunya, memiliki iman yang utuh, terdorong oleh maksud yang benar, mempunyai pengetahuan yang semestinya, mempunyai nama baik, integritas moral serta dilengkapi dengan keutamaan-keutamaan yang teruji dan kualitas lain, baik fisik maupun psikis, yang sesuai dengan tahbisan yang akan diterimanya.

7. Sakramen Perkawinan, merupakan Perjanjian (foedus) perkawinan dengannya seorang laki-laki dan seorang perempuan membentuk antara mereka persekutuan (consortium) seluruh hidup, yang menurut ciri kodratinya terarah pada kesejahteraan suami-istri (bonum coniugum) serta kelahiran dan pendidikan anak, antara orang-orang yang dibaptis, oleh Kristus Tuhan diangkat ke martabat sakramen. (KHK 1055)

Perjanjian perkawinan haruslah berdasarkan kesepakatan. Perkawinan tidak akan pernah sah, bila dilakukan dengan terpaksa, entah oleh keadaan maupun kekuasaan. Kesepakatan mengisyaratkan kehendak bebas. Nona Chengli, gadis manis kelahiran Ciamis, kini dalam keadaan hamil 2 bulan oleh karena pergaulannya dengan Bang Toyib yang kebablasan, terpaksa menikah/dinikahkan untuk menutupi aib keluarganya, tidaklah dapat menjadi perkawinan sah Katolik. Kehamilan, ataupun keadaan lainnya, tidak dapat menjadi dasar perkawinan.

Perkawinan unitas (bukan hanya monogami) ini dibangun oleh seorang laki-laki dan seorang perempuan dalam status liber (status bebas), yaitu tidak terikat perkawinan manapun, sehingga mereka sungguh menyatu membangun kebersamaan hidup, saling menyerahkan diri secara penuh.

Kesatuan dan kebersamaan ini secara nyata terpenuhi dalam relasi seksual (actus coniugalis, persetubuhan), yang bertujuan demi kesejahteraan mereka sebagai suami-istri dan terarah kepada kelahiran anak dan pendidikannya. Karena itu, perkawinan terbuka untuk kelahiran anak, dan tentu pula tanggung jawab untuk mendidiknya.

Persekutuan tunggal suami-istri ini berlangsung kekal atau seumur hidup. Resepsi atau pesta perkawinan hanya sehari (atau lebih), tetapi hidup dalam perkawinan adalah tak terbatas waktu, kecuali oleh batas kematian. Maka, janji mencintai sebagai suami istri adalah dalam seluruh peristiwa hidup, suka dan duka, saat sehat maupun sakit, dalam untung dan malang.

TATA PERAYAAN

Perkawinan Katolik dinyatakan sah, bila memenuhi syarat Forma Canonica, yaitu di hadapan Ordinaris Wilayah (Uskup, Pastor Paroki atau Diakon tertahbis) dan di hadapan dua (2) orang saksi.

Menyangkut Perkawinan Campur, yaitu perkawinan antara orang yang terbaptis Katolik dengan orang yang terbaptis non Katolik (mixta religio, beda gereja), untuk sahnya perkawinan haruslah ada ijin jelas dari Ordinaris wilayah/Uskup dan juga perkawinan antara orang yang terbaptis Katolik dengan orang yang tak terbaptis (disparitas cultus, beda agama), harus pula mendapatkan dispensasi dari Ordinaris wilayah/Uskup untuk sahnya perkawinan.

Syarat untuk mendapatkan ijin atau dispensasi adalah: janji kesetiaan pihak Katolik dalam iman katolik dan usaha yang sungguh untuk mendidik anak-anaknya secara katolik. Janji ini diketahui oleh pihak baptis non Katolik/pihak non Katolik serta pernyataan status liber, status bebas dari pihak baptis non Katolik/pihak non Katolik, di hadapan dua (2) orang saksi, bahwa yang bersangkutan tidak terikat perkawinan manapun.

About these ads

2 responses to “KURSUS EVANGELISASI PRIBADI “SAKRAMEN DALAM IMAN GEREJA KATOLIK”

  1. permisi, saya ingin mengetahui materi2 tentang kursus evangelisasi, mungkin bisa dimuat tentang uraian2 mengenai evangelisasi, terima kasih atas perhatinnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s