PEMBEKALAN CALON PRODIAKON

Rabu malam 21 September 2011, menjadi pertemuan yang kedua bagi para calon prodiakon Paroki Hati Kudus Yesus Tasikmalaya. Pembicara oleh Pastor Ferry Sutrisna Wijaya, Pr yang memandu para calon prodiakon untuk mereflesikan diri memasuki kedalaman hati nuraninya, “Sebenarnya siapa yang sungguh – sungguh terpaksa atau tidak tertarik menjadi Prodiakon?”

“Siapakah yang sungguh – sungguh ingin menjadi Prodiakon sejak dulu?”
Pertanyaan diatas dilontarkan Pastor Ferry yang memiliki darah Tionghoa ini namun tidak fasih berbahasa Mandarin, untuk memancing peserta menyadari akan segala kekurangan dan kelebihannya.

Hadir juga Pastor Yohanes A Cruce Christiono Hartanto, Pr selaku Pastor Paroki dan Pastor Hermanus Sudarman, Pr selaku Pastor Pembantu, yang sedari awal mengikuti acara pertemuan tersebut dengan gembira.

Dari penilaian yang diserahkan oleh pribadi masing – masing menjadi tak lepas dari karaktek watak masing – masing pula, karena ada yang percaya diri dengan memberi angka tinggi, begitu juga sebaliknya ada yang merasa tidak pantas, banyak kekurangan diri dengan sadar memberi penilaian dengan angka rendah.

“Saya menjadi prodiakon sebenarnya tanpa beban, dan apa sich yang menjadi beban? Jika dilihat karena usia masih muda, dan tidak pantas, lalu tidak pantas apanya? Tetap menjadi diri sendiri dan berusaha menjalankan tugas yang diberikan dengan hati gembira”, ujar bapak Slamet Widodo memberikan nilai 8 pada dirinya.

“Apapun dan kapanpun saya tetap laksanakan dengan enteng – enteng saja, karena saya pun dikeluarga sudah banyak yang menjadi prodiakon, petugas Gereja, dan bahkan ada yang menjadi Suster”, kata bapak Purnomo memberikan nilai 7 pada dirinya.

“Saya sudah banyak mendapatkan begitu banyak anugerah dari Tuhan dan sepantasnya juga mau melayani untuk membalaskan kebaikkan Tuhan yang diberikan kepada saya”, kata saudara Nandar, memberikan nilai 6 pada dirinya.

“Tetap menyeimbangkan antara Gereja, keluarga, masyarakat dan ramah dengan ketulusan dalam pelayanan, juga saya merasa masih banyak kekurangan dan saya menjadi Prodiakon sejak gelombang pertama dan hingga saat ini yang sudah memasuki gelombang keempat”, kata bapak Mujiwad memberikan nilai 5 pada dirinya.

“Saya sungguh banyak kekurangan dan merasa tidak pantas untuk menjadi prodiakon dan tidak banyak yang mungkin mengetahui tentang diri saya dan sungguh – sungguh saya merasa belum siap”, kata bapak Sigit memberikan nilai 2 pada dirinya.

“Dengan pertanyaan – pertanyaan yang diajukan, saya mengukur untuk sejauh mana respon calon Prodiakon dan Prodiakon yang lama. Angka berapapun yang diberikan Prodiakon adalah orang yang tidak jalan ditempat, terlepas dari kelebihan dan kekurangan namun ada keinginan untuk berjuang dan ingin mau berubah ke arah yang baik. Lebih pasti berupaya untuk menjadi yang lebih baik, dan berjalan dalam kehati – hatian tidak terjatuh kedalam dosa lagi, jangan mundur!”, jelas Pastor Ferry, Pr.

Bahan dasar yang paling penting untuk menjadi Prodiakon, adalah kerendahan hati.

“Angka yang lebih kecil mudah – mudahan menggambarkan kerendahan hati dan angka yang lebih besar mudah – mudahan tidak menggambarkan kesombongan dan tetap mau berubah menjadi lebih baik”, kata Pastor Ferry yang berkacamata dan menjadi penulis tetap kolom pastoralia di Majalah Mingguan Katolik “Hidup”.

“Tuhan, pergilah daripadaku, karena aku ini seorang berdosa” (Lukas 5:8)

“Pertama – tama bukan karena Pastornya yang males dan tidak mampu bagi – bagi komuni, tetapi menurut saya berkeyakinan bapak – bapak direkomendasikan oleh Pastor Paroki sebetulnya karena bapak – bapak diberikan kesempatan untuk lebih baik hidupnya, begitu juga saya menjadi Pastor bukan karena saya lebih baik dan suci tetapi saya beranggapan menjadi Pastor adalah rahmat dari Allah agar mengijinkan saya untuk lebih baik, mengerem dari tindakan perbuatan dosa lebih banyak lagi”, tambah Pastor Ferry.

Prodiakon bisa menjadi kepala rumah tangga yang baik, berubah tidak berbuat dan berkata – kata kasar lagi kepada anak dan istri, atau menjadi pribadi yang menyenangkan dan baik bagi orang lain di tempat kerja atau di Gereja, atau dimana saja sehingga tidaklah heran bila tugas dan tanggungjawab Prodiakon diluar konteks hanya sekedar membagikan komuni pada waktu Perayaan Ekaristi menjadi sorotan tajam banyak orang.

Mampukah seseorang yang sudah menyandang tugas Prodiakon menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelum – sebelumnya? Ini terus mendera hati nurani dan menjadi pergumulan hidup setiap Prodiakon yang sadar akan kekurangannya.

Menjadi Prodiakon dipanggil untuk lebih hidup menjadi baik lagi, minimal selama 3 tahun masa tugasnya.

Suasana pertemuan malam itu banyak diselingi sendau gurau yang kerap membikin tertawa terbahak – bahak, dalam artian sering juga menertawakan diri sendiri yang memang tidak jauh – jauh dari contoh – contoh yang dikemukakan Pastor Ferry, Pr.

Dan juga dari sharing pengalaman Iman bisa menggali inspirasi dan sering menjadi tergelitik hati dan menjadi tersenyum – senyum sendiri, andaikata diri sendiri menjadi “seperti itu”.

“Marilah kita menggunakan waktu menjadi Prodiakon sebaik – baiknya sebab ini merupakan rejeki, rahmat, dan bukan karena Tuhan butuh pegawai, tetapi Tuhan berharap bapak – bapak untuk bisa berubah menjadi hidup lebih baik lagi, dan percayalah waktu dan hidup itu sangat singkat, tak terasa akan cepat menjadi tua dan meninggal dunia”, tutup Pastor Ferry pada akhir acara pembekalan dengan nada peneguhan yang mudah – mudahan tidak hanya menjadi “wacana” semata – mata.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s